Kamis, 19 Maret 2015

Mengenal Lebih Dekat Suku Karen di Thailand


Suku Cantik yang Berleher Panjang


Suku Karen adalah suku yang memiliki jumlah anggota suku terbesar di Thailand dengan jumlah sekitar 28 ribu orang, suku Karen dikelilingi pegunungan dan dataran tinggi di bagian utara, dan tengah Thailand. Rumah mereka terbuat dari bambu dan berbentuk panggung di mana bagian bawah dari panggung digunakan untuk tempat tinggal hewan-hewan ternak.


Di leher wanita-wanita Suku Karen dipasang gelang logam berwarna keemasan. Gelang-gelang ini fungsinya untuk membentuk leher dan kaki mereka agar lebih panjang, karena menurut adat mereka, semakin panjang leher wanitanya maka mereka akan dianggap semakin tampak cantik. Yang lebih unik lagi alasan mereka mengenakan gelang-gelang itu dilatarbelakangi kebudayaan turun temurun serta kepercayaan bahwa wanita Suku Karen berasal dari seekor Burung Phoenix. Bagi orang Suku Karen, phoenix adalah nenek moyang wanita yang berpasangan dengan naga yang dianggap sebagai nenek moyangnya para pria suku itu. Berat gelang besi di leher wanita dewasa mencapai 5 kg dan gelang kaki di bawah lutut beratnya masing-masing 1 kg. Berarti setiap hari mereka membawa beban 7 kg. Gelang tersebut mulai dipakaikan sejak mereka berusia 5 tahun. Awalnya hanya 2-3 tumpuk gelang, dan setiap 2-3 tahun sekali tumpukan gelang ditambah sampai mereka mencapai usia 19 tahun dimana gelang-gelang tadi digantikan dengan gelang besi yang terbuat dari 1 besi lonjor panjang yang dibentuk melingkar atau dililitkan ke leher mereka. Gelang itu bisa dilepas tapi proses pelepasannya sendiri tidak mudah dan hanya dilakukan pada saat menikah, melahirkan dan meninggal dunia. Kebanyakan wanita karen meninggal pada usia 40-50 tahun, itu mungkin karena besi-besi yang membebani tulang leher merusak susunan tulang pada organ tubuh lain.


Fungsi lain dari gelang-gelang itu adalah sebagai pelindung. Dulu waktu mereka masih tinggal dipegunungan, mereka sering terlibat kontak dengan binatang buas seperti harimau, beruang dan sebagainya. Umumnya, binatang buas tersebut menyerang manusia pada bagian leher dan tenggorokan. Untuk itulah gelang-gelang itu berfungsi sebagai pelindung bagi kaum hawa Suku Karen. Keunikan Suku Karen dimanfaatkan dengan sangat baik oleh dunia pariwisata Negara Thailand. Mereka ditempatkan di beberapa desa diantaranya, Huay Pu KengHuay Suah Thoh,Kayan Pu Keng dan sebagainya. Desa-desa ini di promosikan sebagai salah satu keunikan kebudayaan Thailand. Para wisatawan yang berkunjung untuk menyaksikan keunikan Suku Karen dikenakan biaya sebesar $10 US. Untuk membantu pendapatan keluarga, wanita Suku Karen juga menjual berbagai jenis barang kerajinan khas suku itu. Misalnya kain tenun Suku Karen yang cukup populer serta foto-foto yang menunjukkan kegiatan mereka sehari-hari termasuk proses pelepasan gelang leher. Sementara kaum pria sehari-harinya bekerja di ladang dari pagi hingga petang.


Bahasa Suku Karen

Bahasa suku Karen, masuk dalam anggota kelompok Tibeto-Burman dari keluarga bahasaSino-Tibet, terdiri dari tiga cabang dialek yang saling dapat dipahami yaitu S'gawPwo, dan Pa'o. Karen Merah dan Kayan adalah cabang dialek S'gaw. Bahasa-bahasa Karen sangat unik di antara bahasa Tibet-Burman dalam memiliki urutan kata subyek-kata kerja-obyek, selain Karen dan Bai, bahasa Tibet-Burman fitur urutan subyek-obyek-verba. Anomali ini mungkin karena pengaruh bahasa Sen dan Thai.

Agama Dan Kepercayaan Suku Karen

Pada awalnya suku Karen adalah penganut Animisme, kemudian karena pengaruh orang Sen yang penganut agama Buddha yang dominan di Burma, merekapun mulai menganut ajaran Buddha sampai pertengahan abad 18. Tha BYU, yang pertama kali mengkonversi ke agama Kristen pada tahun 1828, dibaptis oleh Rev George Boardman, rekan Adoniram Judson, dari American Misi Baptis Masyarakat Luar Negeri. Hari ini, orang Karen sebagian besar menganut agama Kristen dari Gereja Katolik atau Gereja Protestan. Beberapa denominasi Protestan terbesar adalah Baptis dan Advent Hari Ketujuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar